Kamis, 01 April 2010

Video Bocah Merokok

The best course of action to take sometimes isn't clear until you've listed and considered your alternatives. The following paragraphs should help clue you in to what the experts think is significant.
  • Video Bocah Merokok
    wallpaper artis indonesia

    youtube bocah merokok dan bicara cabulBerita hari ini,YoutubeVideo Bocah Merokok - video anak kecil berbicara kotor dan merokok! dari Surabaya! begitu heboh di forum-forum internet, Melihat sepintas mengenai bocah yang merokok dalam video itu, maka kita langsung akan tahu, bahwa bocah yang bersangkutan ternyata sudah terbiasa merokok. Dengan mulut yang agak dimonyongkan, balita berinisial SW (4 tahun) tersebut ini membentuk asap menjadi cincin-cincin kecil. Ia juga dengan bahasa yang sangat lugas menyebut (maaf) alat kelamin perempuan dan laki-laki.


    You Tube sendiri, sejak Rabu sore telah memblokir video tersebut. Sekitar pukul 15.00 WIB, video ini berganti sebuah pemberitahuan yang berbunyi, "Video ini telah dicopot karena pelanggaran aturan penggunaan".


    Maka ini Berikut sedikit cuplikannya pertanyaan dalam video tersebut.


    "SW gede dadi..? (SW besar jadi..?)" tanya mereka.

    "Maliing!" sahut SW.


    "Duite digawe...? (Uangnya dipakai untuk..?)" tanya mereka lagi.

    Hopefully the information presented so far has been applicable. You might also want to consider the following:

    "Mba... (Melacur)," cetus bocah itu.


    "Nang endi? (di mana?)" kata mereka

    "Ndek Dolly (Di Dolly, lokalisasi di Surabaya)," jawab SW lantang.


    SW lalu menghisap rokok dan mengepulkanya. Perbuatan ini dia lakukan berkali-kali. Bahkan SW bisa membuat asap berbentuk lingkaran dari mulutnya.


    "Ayo bikin yang bentuk kotak!" kata para penanya sambil tertawa.


    SW kemudian ditanya sejumlah kata-kata cabul. Tanpa malu-malu, dia menyebutkan berbagai istilah alat kelamin perempuan dan laki-laki. Bahkan saat disuruh memperagakan adegan seksual, bocah ini pun menggerakkan pantatnya maju mundur.


    Perilaku ini ternyata bukan tak diketahui orangtua SW. Mulud (40), ayah SW, mengaku kewalahan dengan perilaku SW. Semula ia berencana memasukkan SW ke sekolah, dengan harapan dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk itu. "Namun dia tidak mau bersekolah. Katanya malas, mending ngene jadi preman (enak begini jadi preman - red). Sering pula dia bilang mau jadi maling," ujar Mulud di rumah rumpangannya Jalan Nusakambangan, Kota Malang, Rabu (31/3).


    Sejak beberapa waktu lalu, Mulud dan anaknya memang menumpang di rumah Sinyo (24), temannya yang bekerja sebagai pengantar barang. Mulud sendiri pekerja bangunan serabutan. Sinyo merasa prihatin dengan perkembangan jiwa SW. "Kalau dibiarkan bisa makin rusak. Saya dan bapaknya berharap ada yang membantu menyekolahkan, biar jadi benar ini anak. Saya pikir dia jadi begitu karena lingkungannya dulu yang rusak. Dia pernah bilang sama saya kalau ada orang yang mengajarinya merokok," katanya.


    Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) Seto Mulyadi menilai, SW mengalami tiga kekerasan sekaligus. "Sudah secara psikologis diajari sesuatu yang tidak sesuai umur, dia juga diajari sesuatu yang membahayakan kesehatannya yaitu merokok. Yang lebih parah, dia juga mengalami kekerasan yang disebut eksploitasi anak. Saya dengar di video itu ada yang tanya-tanya, dan waktu si anak menjawab tak benar, mereka, yang bersuara dewasa, ramai-ramai tertawa. Belum lagi video itu diposting pula ke dunia maya. Orang-orang jadi ingin melihat. Ini memprihatinkan," kata Kak Seto di Jakarta, kemarin.


    Lalu siapa yang salah? Kak Seto mengaku tidak ingin menyalahkan orang tua sepenuhnya. Menurutnya, kondisi lingkungan tempat SW tinggal juga sangat berpengaruh. "Menyalahkan orang tua sepenuhnya tentu juga tidak bisa. Kita harus lihat apakah lingkungannya juga membiarkan atau tidak," kata Kak Seto. Menurutnya, SW harus segera diselamatkan dan menjalani sejumlah terapi untuk mengembalikan kondisi fisik dan psikisnya.

  • You can't predict when knowing something extra about news will come in handy. If you learned anything new about news in this article, you should file the article where you can find it again.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar